Tangisan Guru Honorer, "Kami Guru Tapi Gaji Kalah Dengan Sopir MBG

Warganet Geram Lihat Ketidakadilan, Banyak yang Membela: "Mereka Penentu Masa Depan Bangsa!"

CekiNews.com - Video yang menunjukkan seorang guru honorer di Kabupaten Bandung Barat menangis sambil menceritakan kondisi ekonominya yang sulit menjadi viral di berbagai platform media sosial sejak Sabtu (17/1) kemarin. Dalam video berdurasi 3 menit 12 detik tersebut, guru yang tidak ingin disebutkan namanya mengaku menerima penghasilan bulanan hanya Rp 850 ribu, jauh di bawah Upah Minimum Kabupaten (UMK) yang telah ditetapkan sebesar Rp 2,9 juta per bulan.

Lebih menyakitkan lagi, kata sang guru, ia mengetahui bahwa sopir yang mengantar makanan dari Program Makanan Bergizi (MBG) ke sekolahnya mendapatkan honor lebih besar – bahkan bisa mencapai Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per bulan hanya dengan tugas mengangkut dan membongkar muat makanan.

"Sudah 8 tahun saya mengajar di SDN Ciburial 03. Setiap hari saya datang pukul 06.30 pagi, pulang jam 16.00 sore. Saya mengajar 4 kelas berbeda, mengurus administrasi kelas, membimbing siswa untuk lomba, tapi gaji yang saya terima cuma segitu," ujarnya sambil menahan tangis dalam video yang telah ditonton lebih dari 2,7 juta kali dan dibagikan lebih dari 50 ribu kali di akun Twitter dan Instagram.

Sang guru menambahkan, ia harus bekerja paruh waktu sebagai penjual makanan ringan di pasar tradisional setiap sore setelah pulang mengajar hanya untuk mencukupi kebutuhan keluarga yang terdiri dari istri dan dua anak sekolah dasar. "Anak saya sering bertanya kenapa tidak bisa membeli buku pelajaran baru atau alat tulis yang mereka inginkan. Saya hanya bisa terdiam dan menahan air mata," katanya.

KISAH SERUPA MUNCUL DI BERBAGAI DAERAH

Seiring dengan viralnya video tersebut, banyak guru honorer dari berbagai daerah di Indonesia mengeluarkan suara dan berbagi kisah serupa melalui akun media sosial mereka masing-masing.

Siti Nurhaliza (34), guru honorer di SMPN 1 Gunungkidul, Yogyakarta, mengaku menerima gaji bulanan Rp 1 juta selama 5 tahun mengajar. Menurutnya, keberadaan petugas MBG yang masuk ke sekolah bahkan membuat beberapa siswa bertanya mengapa "om sopir" bisa membeli makanan untuk teman-teman sekelasnya, sementara gurunya tampak selalu berjimat-jimat.

"Saya tidak punya apa-apa untuk diberikan kepada siswa yang berprestasi, padahal mereka layak mendapatkan apresiasi. Sementara sopir MBG terkadang bisa memberi jajanan kecil kepada siswa karena mereka memiliki penghasilan yang lebih baik," ungkap Nurhaliza dalam kiriman panjang di akun Facebook-nya.

Di Sulawesi Selatan, seorang guru honorer yang bekerja di SD Inpres Pallangga juga mengaku mengalami hal serupa. "Kita sebagai guru harus memberikan contoh yang baik tentang kejujuran dan kerja keras, tapi bagaimana kalau kita sendiri tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar keluarga? Padahal kita mengabdikan diri untuk mencerdaskan anak bangsa," ucapnya dalam wawancara singkat dengan tim jurnalis kami.

KEBIJAKAN PEMERINTAH DITANYA KEMBALI

Kasus ini membuat kembali menjadi sorotan kebijakan pemerintah terkait penanganan guru honorer dan implementasi Program MBG di sekolah-sekolah. Hingga saat ini, pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 12,5 triliun untuk Program MBG tahun 2026, yang mencakup biaya makanan, transportasi, dan honor petugas yang terlibat.

Menurut data dari Badan Gizi Nasional (BGN), honor untuk sopir MBG ditetapkan berdasarkan kesepakatan dengan penyedia jasa transportasi lokal, dengan kisaran Rp 80 ribu hingga Rp 120 ribu per hari kerja. Dalam sebulan, jika bekerja selama 25 hari, sopir tersebut bisa mendapatkan antara Rp 2 juta hingga Rp 3 juta.

Sementara itu, insentif untuk guru honorer yang dijanjikan pemerintah mulai tahun 2026 sebesar Rp 400 ribu per bulan masih belum terdistribusi secara merata. Hingga awal Januari 2026, hanya sekitar 3% guru honorer di seluruh Indonesia yang telah menerima bantuan tersebut, sesuai data dari Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G).

Kepala Bidang Advokasi Guru P2G, Iman Zan Atul Haeri, menyatakan bahwa kasus ini menunjukkan betapa jauhnya kesenjangan yang terjadi dalam sistem pendidikan negara. "Guru adalah pilar utama pembangunan sumber daya manusia. Jika mereka tidak diperhatikan, bagaimana bisa kita harapkan pendidikan Indonesia berkembang?" tandasnya.

Iman menambahkan, pihaknya telah mengirimkan surat resmi kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) serta Kementerian Kesehatan untuk meninjau kembali kebijakan penganggaran dan penempatan tenaga di sekolah-sekolah.

RESPON PEMERINTAH DAN REAKSI WARGANET

Dalam konferensi pers yang digelar Senin (19/1) kemarin, Juru Bicara Kemendikbudristek, Rina Dewi Sartika, mengaku telah mengetahui kasus yang viral tersebut. Menurutnya, pemerintah sangat prihatin dengan kondisi guru honorer dan sedang berupaya untuk menyelesaikan masalah tersebut.

"Kita menyadari bahwa masih banyak guru honorer yang belum mendapatkan perlakuan yang layak. Insentif sebesar Rp 400 ribu per bulan sedang dalam proses pendistribusian dan kami berharap seluruh guru honorer bisa menerimanya sebelum akhir bulan Januari," ujar Rina.

Mengenai perbedaan penghasilan antara guru honorer dan sopir MBG, Rina menjelaskan bahwa kedua hal tersebut berada dalam anggaran dan kebijakan yang berbeda. "Program MBG berada di bawah naungan Kementerian Kesehatan dengan anggaran tersendiri, sedangkan kebutuhan guru menjadi tanggung jawab Kemendikbudristek. Kita akan melakukan koordinasi dengan kementerian terkait untuk mencari solusi yang adil," tambahnya.

Di sisi lain, warganet memberikan dukungan yang luar biasa kepada guru honorer yang viral tersebut. Banyak yang mengajukan permintaan agar pemerintah segera menyelesaikan masalah guru honorer dan memberikan penghasilan yang layak. Beberapa tagar seperti #HormatiGuruHonorer, #GajiGuruHarusAdil, dan #PrioritaskanPendidikan menjadi trending topic di Twitter selama lebih dari 12 jam.

Seorang pengguna dengan nama akun @CintaNegeri kita menulis: "Guru adalah orang yang membuat dokter, insinyur, bahkan presiden. Bagaimana bisa mereka mendapatkan gaji lebih rendah dari sopir? Ini sangat tidak adil dan harus segera diperbaiki!"

Sementara itu, beberapa komunitas dan tokoh masyarakat juga mengajak untuk mengumpulkan bantuan bagi guru honorer yang terkena dampak, baik dalam bentuk uang tunai maupun barang kebutuhan.

HARAPAN GURU HONORER

Dalam sambungan wawancara yang dilakukan setelah video-nya viral, sang guru honorer dari Bandung Barat menyampaikan harapannya kepada pemerintah dan seluruh elemen masyarakat. "Kami tidak menginginkan sesuatu yang berlebihan, hanya penghasilan yang layak agar bisa fokus mengajar tanpa harus khawatir tentang kebutuhan hidup sehari-hari," katanya.

Ia berharap, kasusnya yang viral bisa menjadi momentum perubahan bagi kondisi guru honorer di seluruh Indonesia. "Semoga apa yang saya alami tidak terjadi lagi pada guru lain di masa depan. Anak-anak kita pantas mendapatkan pendidikan yang baik dari guru yang sehat dan bahagia," pungkasnya dengan mata yang masih berkaca-kaca.(*) 

0 Komentar

Pulang Kampung ke Jambi! Bupati Tanah Laut Bertemu Maulana, Ada Agenda Rahasia yang Dibicarakan?

CekiNews.com - Suasana penuh keakraban menyelimuti pertemuan strategis antara dua pimpinan daerah dari pulau yang berbeda. Wali Kota Jambi, Dr. dr. H. Maulana, M.K.M., secara resmi menerima kedatangan Bupati Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan, H. Rahmat Trianto, M.Si., M.Han, pada Rabu pagi (25/03/2026) bertempat di Rumah Dinas Wali Kota Jambi. Pertemuan ini bukan sekadar kunjungan kedinasan biasa, melainkan momentum berharga untuk mempererat silaturahmi antardaerah serta menjadi wadah pertukaran gagasan guna mempercepat progres pembangunan di masing-masing wilayah. Dalam sambutannya, Wali Kota Maulana memberikan apresiasi khusus kepada H. Rahmat Trianto. Ia mengungkapkan rasa bangga karena Bupati Tanah Laut tersebut merupakan putra asli daerah Jambi yang telah mengukir prestasi gemilang di perantauan hingga dipercaya memimpin sebuah kabupaten di Kalimantan Selatan. “Atas nama Pemerintah Kota Jambi dan seluruh masyarakat, kami mengucapkan selamat datang kembali di tanah kelahiran...