DPRD Jambi Gedung Mewah, Mental Sampah GBRK Sebut Hafis Fattah Nahkoda Kapal Pecah yang Hanya Bisa Mencuri

JAMBI – Temuan BPK soal kelebihan bayar hampir Rp1 Miliar di Sekretariat DPRD Provinsi Jambi bukan lagi sekadar angka di atas kertas. Ini adalah surat pernyataan kemiskinan moral. Di dalam gedung yang dibangun dari pajak keringat rakyat itu, para penghuninya telah kehilangan kewarasan untuk membedakan mana hak rakyat dan mana yang patut mereka jarah.

Ketua **Gerakan Bersama Rakyat Kampus (GBRK), Rio Jodiansyah**, menyayat tajam kepemimpinan Hafis Fattah. Ia menyebut DPRD Jambi saat ini sebagai sekumpulan manusia yang hanya sibuk mempertebal dompet di tengah kehancuran daerah.

"Hafis Fattah memimpin sekumpulan orang-orang yang kehilangan jati diri. Mereka gagah dengan jas, tapi mentalnya pengemis yang mencuri recehan rakyat. Rp1 Miliar untuk perjalanan dinas? Itu uang keringat petani, uang pajak pedagang kaki lima yang kalian telan sambil tertawa di kamar hotel mewah. Tidak ada setetes pun rasa malu di wajah kalian?" cecar Rio dengan nada dingin yang menusuk.

Rio menelanjangi kepalsuan sistem kerja DPRD di bawah kendali politisi PAN tersebut. Menurutnya, ketidakmampuan DPRD Jambi dalam mengkritik Pemprov bukan karena wibawa, melainkan karena mulut mereka sudah tersumbat oleh bau busuk uang haram.

"Kalian tidak mengkritik pemerintah karena kalian takut. Kalian takut jika suara kalian lantang, borok perjalanan dinas kalian akan dibedah lebih dalam. Jadi, kalian memilih tunduk, menjilat, dan diam saat rakyat ditindas, asal urusan 'perjalanan dinas' dan jatah kalian aman. Kalian adalah musuh rakyat yang bersembunyi di balik lencana wakil rakyat. Kalian bukan cuma pengkhianat, kalian adalah parasit yang membusukkan sistem dari dalam!"

GBRK menegaskan bahwa pengembalian sisa uang ke kas daerah sebesar Rp417 juta hanyalah sandiwara kelas rendah untuk menutupi kejahatan yang lebih besar.

"Jangan anggap kami bodoh! Mengembalikan uang curian tidak membuat kalian jadi orang suci. Itu hanya membuktikan bahwa kalian memang maling yang tertangkap basah. Hafis Fattah, kursi yang kau duduki itu bukan milik pribadimu untuk dijadikan tempat berpesta pora. Jika kau tidak mampu membersihkan 'kotoran' di lingkunganmu, maka kau sendiri adalah bagian dari kotoran itu."

Rio memberikan ancaman terakhir yang menyayat: "GBRK tidak butuh klarifikasi. Kami tidak butuh janji manis perbaikan sistem yang hanya omong kosong. Kami butuh bukti bahwa kalian masih punya sisa kemanusiaan. Jika tidak, maka bersiaplah. Kami akan memastikan bahwa setiap rupiah yang kalian rampas akan menjadi beban yang menghancurkan karier dan martabat kalian selamanya. Rakyat Jambi sudah mencatat nama-nama kalian. Tunggu waktu kami datang."

DPRD Jambi kini berdiri telanjang di depan mata publik. Bukan sebagai wakil rakyat, melainkan sebagai sekelompok orang yang telah menjual harga diri mereka demi selembar tiket perjalanan dinas yang tidak pernah mereka jalani dengan jujur.



0 Komentar

Tewasnya Massa Aksi di Lahan Pertamina, GBRK Semprot Pemprov Jambi: “Cermin Telanjang Matinya Nurani Penguasa!”

JAMBI, — Gerakan Bersama Rakyat Kampus (GBRK) melontarkan kritik keras nan menohok yang diarahkan langsung kepada jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi pasca-tewasnya salah satu massa aksi, inisal Er (63), warga terdampak sengketa lahan Zona Merah PT Pertamina di Kenali Asam Atas, Kecamatan Kota Baru, Kota Jambi. Ketua GBRK, Rio Jodiansyah, menegaskan bahwa tewasnya massa aksi di Kenali Asam Atas bukan sekadar musibah di lapangan, melainkan cermin telanjang dari matinya nurani serta bobroknya fungsi pelayanan publik di Provinsi Jambi. "Almarhum menghembuskan napas terakhirnya di atas tanah sengketa yang ia bela mati-matian sejak pagi hari," ujar Rio Jodiansyah. Dugaan serangan jantung akibat kelelahan fisik ekstrem dan tekanan emosional mendalam menghentikan langkah sang veteran perlawanan warga tersebut. Tragedi ini menjadi puncak gunung es dari kebebalan birokrasi di Provinsi Jambi. Bertahun-tahun warga Kenali Asam Atas memperjuangkan hak atas tanah pemukimannya, be...