Dean lahir di Palembang, Sumatra Selatan. Namun, masa kecil dan perjalanan tumbuhnya lebih banyak ia jalani di Kota Batam, Kepulauan Riau. Di kota yang berada di kawasan strategis perbatasan Indonesia itu, Dean tumbuh dengan lingkungan yang beragam. Batam menjadi ruang pertama yang membentuk pengalaman, pergaulan, dan cara pandangnya terhadap kehidupan.
Waktu terus berjalan. Setelah melewati masa pendidikan di Batam, langkah Dean kembali bergerak. Kali ini menuju Tegal, Jawa Tengah, untuk menempuh pendidikan tinggi.
Perpindahan dari Palembang ke Batam, kemudian ke Tegal, bukan sekadar perpindahan tempat. Setiap daerah meninggalkan pengalaman dan pelajaran tersendiri. Dari Sumatra Selatan, ia mengenal akar. Dari Batam, ia belajar tentang keberagaman. Dan di Tegal, ia melanjutkan perjalanan intelektual sekaligus memperluas ruang pengabdiannya.
Perjalanan itu kemudian membawanya pada satu titik yang lebih besar. Panggung nasional Himpunan Mahasiswa Islam.
Menjelang Kongres PB HMI ke-XXXIII (33) di Lampung, nama Dean Hadi Pratama mulai mencuat sebagai salah satu figur yang menyatakan kesiapan untuk ikut dalam kontestasi Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam.
Bagi Dean, kongres bukan hanya tentang siapa yang akan menduduki kursi Ketua Umum PB HMI. Lebih dari itu, kongres merupakan ruang pertemuan kader HMI dari berbagai penjuru Nusantara, tempat gagasan dipertemukan, perbedaan diperdebatkan, dan arah perjalanan organisasi kembali ditentukan.
Di sinilah perjalanan Dean menemukan babak barunya.
Seorang yang lahir di Palembang, tumbuh di Batam, kemudian menempuh pendidikan di Tegal, kini harus berhadapan dengan dinamika organisasi di tingkat nasional.
Tentu jalannya tidak mudah. Kontestasi kepemimpinan PB HMI selalu menghadirkan persaingan, perdebatan gagasan, konsolidasi, dan pertarungan dukungan. Dean tidak hanya harus memperkenalkan dirinya, tetapi juga harus menjawab satu pertanyaan besar dari para kader:
Apa yang ingin ia bawa untuk HMI?
Sebab pada akhirnya, seorang calon ketua umum tidak cukup hanya membawa nama. Ia harus membawa gagasan. Tidak cukup hanya mengumpulkan dukungan. Ia harus menawarkan arah.
Dari Palembang ia membawa akar perjalanan.
Dari Batam ia membawa pengalaman keberagaman.
Dari Tegal ia membawa perjalanan pendidikan dan intelektual. Dan kini, semuanya bertemu di Lampung. Dari daerah, menembus batas wilayah, menuju panggung nasional.
Kongres PB HMI ke-XXXIII akan menjadi babak penting dalam perjalanan Dean Hadi Pratama. Di sana, bukan hanya namanya yang akan diuji, tetapi juga keberanian, gagasan, visi, dan kemampuannya meyakinkan kader-kader HMI dari seluruh Indonesia.
Dean datang membawa perjalanan.
Kini, ia mempertaruhkan gagasan. Dan di panggung kongres, sejarah baru mungkin saja dimulai.

0 Komentar